loader

Industri Alas Kaki Indonesia Duduki Posisi Kelima Exportir Terbesar Dunia

26 May 2017 | Author : Manufakturindo
image berita
Industri alas kaki dalam negeri mulai memperlihatkan perkembangan luar biasa dari tahun-tahun sebelumnya. Sektor industri inpun berhasil menjadi sektor strategis dan menjadi prioritas utama untuk terus dikembangkan. Jika dilihat dari kontribusi terhadap perekonomian nasional, industri alas kaki mampu memberikan sumbangan cukup signifikan. Hal tersebut, dibuktikan melalui capaian produk domestik bruto (PDB) kelompok industri yang naik dari Rp31,44 triliun pada tahun 2015 menjadi Rp35,14 triliun tahun 2016.

 

“Berarti industri ini menyumbang sekitar 0,28 persen terhadap penerimaan negara,” kata Dirjen Industri Kecil dan Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian, Gati Wibawanigsih saat ditemui di Jakarta, Minggu (21/5). Untuk itu, Kemenperin aktif memacu produktivitas dan daya saing para pelaku IKM sektor ini agar bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dan memperluas pasar ekspor.

 

Gati menambahkan untuk sektor industri alas kaki, Indonesia berhasil menduduki posisi ke-5 sebagai eksportir di dunia setelah Tiongkok, India, Vietnam, dan Brasil. Kemudian, market share-nya di pasar internasional mencapai 4,4 persen. Bahkan, berdasarkan data Trade Map, pertumbuhan ekspornya positif dari USD 4,85 miliar pada tahun 2015 atau naik 3,3 persen menjadi USD 5,01 miliar tahun 2016.

 

“Peningkatan kinerja ekspor alas kaki Indonesia tersebut melebihi pertumbuhan nilai ekspor dunia yang hanya sekitar 0,19 persen. Hal ini menunjukkan bahwa produk alas kaki dalam negeri memiliki daya saing di atas rata-rata dunia,” paparnya.

 

Di lain sisi, Direktur IKM Kimia, Sandang, Aneka dan Kerajinan Kemenperin E Ratna Utarianingrum menyampaikan, pertumbuhan alas kaki didorong karena tren fashion yang cepat berkembang. ”Pada tahun 2020, pangsa pasar alas kaki nasional ditargetkan sebesar 10 persen ke pasar dunia. Kami optimis bisa tercapai karena seiring dengan pertambahan penduduk, maka semakin tinggi kebutuhan sepatu,” ucapnya.

 

Tantangan yang dihadapi saat ini

 

Tantangan yang tengah dihadapi saat ini ialah kurangnya bahan baku kulit mentah untuk diolah menjadi barang jadi. Pasalnya, pasokan dari domestik baru memenuhi sekitar 36 persen dari total kapasitas industri kulit. “Itupun kualitas bahan bakunya masih perlu ditingkatkan lagi untuk proses produksi selanjutnya,” ungkap Ratna.

 

Selain itu, prosedur karantina untuk kulit dan pembatasan asal negara impor kulit juga menjadi kendala lainnya. “Kemudian, tingginya ketergantungan impor bahan baku, bahan penolong dan aksesoris, sehingga kenaikan kurs dollar juga sangat berpengaruh terhadap struktur biaya produksi alas kaki,” sebutnya.

 

Untuk lebih meningkatkan daya saing industri alas kaki, produk kulit dan pakaian jadi dalam negeri, Kemenperin memberikan fasilitasi pendampingan dan restrukturisasi mesin kepada industri. Selain itu, Kemenperin juga menyusun program pendidikan vokasi industri untuk menciptakan tenaga kerja yang kompeten. “Kami telah berkerja sama dengan perusahaan alas kaki dan garmen untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang dapat langsung terserap oleh dunia industri,” imbuh Ratna.

Berita Manufaktur Terkait

Jumlah Pemesanan...

Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2017 resmi dibuka pada tanggal 10 - 20 Agustus. S...

Baca selengkapnya..

Industri Kosmetik Dan Jamu...

Industri kosmetik dan jamu kembali menorehkan prestasi perkembangan yang signifikan. Terbukti dengan...

Baca selengkapnya..

Banjarmasin Seminar Dan...

Bagi anda yang sedang mencari informasi lowongan pekerjaan di Banjarmasin. Silakan kunjungi Banjarma...

Baca selengkapnya..

Perusahaan Manufaktur